Doa dan Adabnya

DOA DAN ADABNYA
Do’a, adalah salah satu amalan penting bagi seorang sufi.
Adab do’a misalnya disusun oleh ajaran sufi sebagai berikut:
1. Orang-orang sufi harus memlihara waktu-waktu yang dianggap murni dan mulia sebagai saat dan tempat mengucapkan sesuatu do’a. hari Arafat yang hanya dating sekali setahun, dengan tempatnya yang tertentu dekata Mekkah, sebagai tempat permulaan ibadah haji, bagi orang sufi adalah saat yang terpenting tempat mengucapkan do’a, dan oleh karena itu kesempatan ini sedapat mungkin tidak dibiarkan berlalu begitu saja. Kemudian bulan Ramadhan adalah salah satu bulan terbaik di antara bulan-bulan setahun, begitu juga hari jum’at merupakan hari yang terbaik pula dalam seminggu, waktu sahur merupakan saat yang terindah pada waktu malam, dan lain-lainnya, sebagai tempat-tempat berdo’a menghadapkan sesuatu permohonan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
2. Pada anggapan orang-orang sufi kesempatan waktu yang baik itu harus dipergunakan sungguh-sungguh, dan terutama do’a-do’a itu dianggap baik diucapkan tatkala orang-orang berdesak-desakan dalam barisan sabilillah, tatkala turun hujan, tatkala berdiri dalam shalat lima waktu yang wajib, tatkala puasa dan tatkala sujud.
3. Do’a itu harus diucapkan sambil menghadap kiblat dan sambil mengangkat kedua belah tangannya sehingga keliatan ketiaknya. Hal ini tentu ditujukan kepada latihan badan.
4. Mengucapkan do’a itu hendaklah dengan suara yang sedang tidak terlalu keras dan tidak terlalu rendah. Yang demikian itu mungkin dimaksudkan untuk menenangkan diri dan jiwa orang yang berdo’a itu, dan menyesuaikan dengan ajaran Islam, bahwa Tuhan itu tidak ghaib dan tidak tuli, sebagaimana yang dikemukakan Nabi, tatkala orang-orang berdo’a berteriak-teriak dengan suara yang membumbung ke angkasa.
5. Hendaklah dijaga agar do’a itu tidak tersusun dalam kata-kata yang bersajak berlebihan, untuk menghilangkan kesukaran dalam mengucapkannya, sesuai dengan hadits Nabi, yang mennyuruh meninggalkan gurindam dan sajak itu dalam susunan do’a. Larangan ini dihukumi makruh , karena Nabi sendiri acapkali berdo’a dengan kata-kata bersajak, meskipun dengan cara yang sangat sederhana dan mudah difahami orang.
6. Orang-orang sufi itu di kala ia berdo’a haruslah berada dalam keadaan tadarru’, khusyu’, penuh harapan akan diberi, dan penuh ketakutan untuk ditolak.
7. Orang yang iingin mengucapkan do’a itu haruslah mempunyai keyakinan seyakin-yakinnya, bahwa do’anya itu pasti diterima Tuhan, karena dengan demikian tertanam dalam jiwanya keyakiknan bahwa Tuhan adalah satu-satunya yang dapat melimpahkan kurnia-NYA.
8. Do’a itu harus diucapkan dengan jelas, diulang-ulang, minta segera dipenuhi oleh Tuhan.
9. Do’a itu harus dimulai dengan sebutan nama Allah dan shalawat kepada Nabi-Nya.
10. Sebagai penutup adab do’a dikemukakan, bahwa do’a itu baru diucapkan sesudah taubat membersihkan diri dari segala perbuatan yang keji.
Semua adab ini pernah dibicarakan dalam kitabnya Imam Ghazali…
Sumber: Pengantar Sejarah Sufi dan Tasawuf, Prof. Dr. H. Aboebakar Atjeh, (Semarang : Ramdhani, 1962). Hal. 350-352.

my life

kisah yang selalu terulang tiap harinya, tak berubah walau bulan dan tahun telah berganti.

keheningan pasti melanda hidup yang telah kutempuh bertahun-tahun yang lalu, semenjak aku tak tahu lagi apa yang terjadi pada diriku dan tak tahu apa yang teolah kulakukan untuk orang-orang yang ada di sekelilingku.

tawa candaku seolah palsu dah tak dapat kuperbaiki senyum yang ada di bibirku

seolah lubang yang ada tak tertutupi dan semakin membuka setiap waktunya. kemana harus kubawa hidupku ini, ke arah yang baik atau sebaliknya????

kadang aku sendiri tak mengerti jalan pikiranku, yang ada hanya kesenangan, kesenangan dan kesenangan. tanpa kusadari aku mencampakkan sesuatu yang bahkan lebih berarti daripada hidupku ini.

semakin ku melangkah semakin kusadari hidupku tak berarti tanpa Engkau Wahai Tuhan Sang Pencipta, diriMu semakin besar dan diriku semakin tak berharga, dentang waktu semakin menyadarkanku bahwa hidupku tak akan sama dengan yang lalu, dan hidupku tak akan ada selamanya. hidupku akan lebih berarti dan membuat segalanya membaik. kan ku coba tuk tak mengorbankan apapun di sisa hidupku ini, dan kucoba tuk tak menyakiti orang yang kusayangi….

berjuang sampai ajal menjemput…

my life

Berulang kali jatuh bangun tentang cinta,  jatuh bangun tentang hidup…

jauh dan dekat dari sebuah keputusan penting yang membuat seseorang ingin mati dahn tidak kembali ke kehidupan ini…

tapi hidup terus berlanjut, apapun yang terjadi pada diriku..

semua kembali ke satu sisi bahwa aku adalah aku…

tidak akan pernaj menjadi orang lain..

entah orang mau bilang apa tentang diriku…

baik buruknya diriku, aku tetaplah aku!!

aku menyakiti orang lain sekalipun, hidupku hanya aka bergantung pada diriku dan orang-orang yang ada di sekelilingku… tidak akan pernaj menjadi orang lain…

hadis tentang memlihara lingkungan dan kaitannya dengan silaturrahim

BAB I
PENDAHULUAN
Secara ekologis, manusia adalah bagian dari lingkungan hidup. Komponen yang ada di sekitar manusia yang sekaligus sebagai sumber mutlak kehidupannya merupakan lingkungan hidup manusia. Lingkungan hidup inilah yang menyediakan berbagai sumber daya alam yang menjadi daya dukung bagi kehidupan manusia.
Sumber daya alam adalah segala sesuatu yang terdapat di alam yang berguna bagi manusia, untuk memenuhi kebutuhan hidupnya baik untuk masa kini maupun masa mendatang. Kelangsungan hidup manusia tergantung dari keutuhan lingkungannya, sebaliknya keutuhan lingkungan tergantung bagaimana kearifan manusia dalam mengelolanya. Oleh karena itu, lingkungan hidup tidak semata mata dipandang sebagai penyedia sumber daya alam serta sebagai daya dukung kehidupan yang harus dieksploitasi, tetapi juga sebagai tempat hidup yang mensyaratkan adanya keserasian dan keseimbangan antara manusia dengan lingkungan hidup.Masalah lingkungan hidup dapat muncul karena adanya pemanfaatan sumber daya alam dan jasa jasa lingkungan yang berlebihan sehingga meningkatkan berbagai tekanan terhadap lingkungan hidup, baik dalam bentuk kelangkaan sumber daya dan pencemaran maupun kerusakan lingkungan lainnya. Berbagai masalah lingkungan hidup, lingkungan yang diajarkan oleh agama Islam kepada manusia dapat dirinci Melalui Kitab Suci Al-Qur’an dan dari hadits, Allah telah memberikan informasi spiritual kepada manusia untuk bersikap ramah terhadap lingkungan. Informasi tersebut memberikan sinyalamen bahwa manusia harus selalu menjaga dan melestarikan lingkungan agar tidak menjadi rusak, tercemar bahkan menjadi punah, sebab apa yang Allah berikan kepada manusia semata-mata merupakan suatu amanah. Melalui Kitab Suci yang Agung ini (Al-Qur’an) membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap ramah lngkungan.

BAB II
PEMBAHASAN

عَنِ ابْنِ عُمَرَ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص.م. مَنْ سَنَّ فِى الاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ اَجْرُهَا وَ اَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَ مَنْ سَنَّ فِى الاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَ وِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ اَوْزَارِهِمْ شَيْئًا رواه مسلم

Hadits Riwayat Muslim. Dari Ibnu Jarir bin Abdillah, dia berkata : Telah bersabda Rosulullah saw : “ Siapa yang memulai melakukan suatu perbuatan yag baik di dalam Islam, maka dia akan mendapat pahalanya, ditambah dengan pahala orang yang ikut mengerjakan sesudahnya tanpa mengurangkan pahala orang yang mengikutinya. Dan (sebaliknya) barangsiapa yang memulai melakukan suatu perbuatan yang buruk, maka ia akan menanggung dosanya ditambah dengan dosa-dosa orang yang mengikuti sesudahnya, tanpa dikurangkan sedikitpun dosa orang yang mengikutinya itu. (Hadits Riwayat Muslim)
Yang mula-mula dilakukan seseorang itu sering kali dicontoh oleh orang lain, apakah perbuatan yang dilakukan itu perbuatan baik ataukah perbuatan yang tidak baik.
Hadis ini menjelaskan, bahwa baik buruknya perbuatan tersebut dicontoh dan ditiru orang lain. Apabila kita memulai melakukan suatu perbuatan yang baik, yang sesuai dengan ajaran agama, baik itu perbuatan yang berkenaan dengan ibadah atau muamalah. Ataupun yang berkaitan dengan lingkungan hidup, seperti melakukan usaha-usaha untuk menjaga pelestarian alam yang merupakan karunia Tuhan. Usaha seperti itu kemudian diikuti oleh orang lain, maka kita akan memperoleh pahala, bukan saja karena perbuatan kita sendiri, tetapi juga mendapat pahala tambahan dari pahala orang lain yang mengikuti perbuatan kita.
Sebaliknya apabila kita memulai dengan sesuatu perbuatan yang tidak baik, baik yang berkenaan dengan suatu perbuatan yang berkenaan dengan ibadah atau mu’amalah. Ataupun yang berhubungan dengan masalah lingkungan hidup, seperti melakukakn perbuatan yang dapat merusak pelestarian hidup alam, maka apabila perbuatan kita itu di contoh oleh orang lain, kita akan menanggung dosa yang berat. Sebab bukan saja kita harus menanggung dosa akibat perbuatan kita sendiri, tetapi juga di tambah dengan dosa orang lain yang menikuti perbuatan kita itu. Sedangkan dosa yang mencontoh perbuatan kita itu sedikitpun tidak akan dikurangi oleh Allah swt.

عن ابى هريرة انّ رسول الله ص.م قال : مَنْ عَادَ اِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الاَجْرِ مِثْلُ اُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُهُ ذٰلِكَ مِنْ اُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَ مَنْ دَعَا اِلَى ضَلاَ لَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الاِثْمِ مِثْلُ اٰثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُضُ ذٰلِكَ مِنْ اٰثَامِهِمْ شَيْئًا رواه مسلم
Dari Abi Hurairah bahwasanya Rosulullah SAW bersabda : ”Barangsiapa yang menyerukan petunjuk kebaikan, ia akan memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa sedikitpun mengurangi pahala pengikut-pengikutnya itu. Barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, maka kepadanya akan ditimpakan dosa seperti dosanya yang mengikuti seruannya, tanpa sedikitpun mengurangi dosa-dosa yang diderita pengikut-pengikutnya itu”. ( H.R. Muslim)

Di dalam hadits ini memberikan pengertian bahwa orang yang menyerukan kepada kebaikan ia akan memperoleh pahala yang berlipat ganda, yakni pahala dirinya melakukan perbuatan baiknya dan pahala seseorang mengerjakan kebaikan atas seruannya. Begitu pula akan ditimpakan dosa yang berlipat ganda bagi orang yang menyerukan perbuatan sesat, dosa bagi orang yang melakukan kesesatan itu sendiri dan dosa menganjurkan seseorang berbuat sesat, dosanya orang yang mengikuti kesesatan.
Seperti halnya kebaikan untuk menyerukan keada sesama manusia untuk menjaga pelestarian lingkungan yang telah diserukan kepada umat manusai melalui kitab suci al-Quran. Di dalam Al-Qur’an, Allah telah memberikan informasi spiritual kepada manusia untuk bersikap ramah terhadap lingkungan. Informasi tersebut memberikan sinyalamen bahwa manusia harus selalu menjaga dan melestarikan lingkungan agar tidak menjadi rusak, tercemar bahkan menjadi punah, sebab apa yang Allah berikan kepada manusia semata-mata merupakan suatu amanah. Melalui Kitab Suci yang Agung ini (Al-Qur’an) membuktikan bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kepada umatnya untuk bersikap ramah lngkungan. Firman Allah SWT Di dalam Al-Qur’an sangat jelas berbicara tentang hal tersebut. Sikap ramah lingkungan yang diajarkan oleh agama Islam kepada manusia dapat dirinci sebagai berikut :
1. Agar manusia menjadi pelaku aktif dalam mengolah lingkungan serta melestarikannya
Perhatikan surat Ar Ruum: 9 dibawah ini

Artinya : Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah lebih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri.
Pesan yang disampaikan dalam surat Ar Ruum ayat 9 di atas menggambarkan agar manusia tidak mengeksploitasi sumber daya alam secara berlebihan yang dikwatirkan terjadinya kerusakan serta kepunahan sumber daya alam, sehingga tidak memberikan sisa sedikitpun untuk generasi mendatang. Untuk itu Islam mewajibkan agar manusia menjadi pelaku aktif dalam mengolah lingkungan serta melestarikannya. Mengolah serta melestarikan lingkungan tercermin secara sederhana dari tempat tinggal (rumah) seorang muslim. Rasulullah SAW menegaskan dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Thabrani :
”Dari Abu Hurairah : jagalah kebersihan dengan segala usaha yang mampu kamu lakukan. Sesungguhnya Allah menegakkan Islam di atas prinsip kebersihan. Dan tidak akan masuk syurga, kecuali orang-orang yang bersih” . (HR. Thabrani).
Dari Hadits di atas memberikan pengertian bahwa manusia tidak boleh kikir untuk membiayai diri dan lingkungan secara wajar untuk menjaga kebersihan agar kesehatan diri dan keluarga/masyarakat kita terpelihara.Demikian pula, mengusahakan penghijauan di sekitar tempat tinggal dengan menanamkan pepohonan yang bermanfaat untuk kepentingan ekonomi dan kesehatan, disamping juga dapat memelihara peredaran suara yang kita hisap agar selalu bersih, bebas dari pencemaran. Dalam sebuah Hadits disebutkan :
”Tiga hal yang menjernihkan pandangan, yaitu menyaksikan pandangan pada yang hijau lagi asri, dan pada air yang mengalir serta pada wajah yang rupawan (HR. Ahmad)
2. Agar manusia tidak berbuat kerusakan terhadap lingkungan
Di dalam surat Ar Ruum ayat 41 Allah SWT memperingatkan bahwa terjadinya kerusakan di darat dan di laut akibat ulah manusia.
Artinya : Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). Serta surat Al Qashash ayat 77 menjelaskan sebagai berikut :
Artinya : Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Firman Allah SWT di dalam surat Ar Ruum ayat 41 dan surat Al Qashash ayat 77 menekankan agar manusia berlaku ramah terhadap lingkungan (environmental friendly) dan tidak berbuat kerusakan di muka bumi ini. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Anas, dijelaskan bahwa :
”Rasulullah ketika berwudhu’ dengan (takaran air sebanyak) satu mud dan mandi (dengan takaran air sebanyak) satu sha’ sampai lima mud” (HR. Muttafaq ’alaih).
Satu mud sama dengan 1 1/3 liter menurut orang Hijaz dan 2 liter menurut orang Irak (lihat Lisanul Arab Jilid 3 hal 400). Padahal hasil penelitian yang dilakukan oleh Syahputra (2003) membuktikan bahwa rata-rata orang berwudhu’ sebanyak 5 liter. Hal ini membuktikan bahwa manusia sekarang cenderung mengekploitasi sumber daya air secara berlebihan, atau dengan kata lain, setiap manusia menghambur-hamburkan air sebanyak 3 sampai 3 2/3 liter setiap orangnya setiap kali mereka berwudhu’. Dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwa Nabi pernah bersabda :”Hati-hatilah terhadap dua macam kutukan; sahabat yang mendengar bertanya : Apakah dua hal itu ya Rasulullah ? Nabi menjawab : yaitu orang yang membuang hajat ditengah jalan atau di tempat orang yang berteduh”
Di dalam Hadits lainnya ditambah dengan membuang hajat di tempat sumber air. Dari keterangan di atas, jelaslah aturan-aturan agama Islam yang menganjurkan untuk menjaga kebersihan dan lingkungan. Semua larangan tersebut dimaksudkan untuk mencegah agar tidak mencelakakan orang lain, sehingga terhindar dari musibah yang menimpahnya.Islam memberikan panduan yang cukup jelas bahwa sumber daya alam merupakan daya dukung bagi kehidupan manusia, sebab fakta spritual menunjukkan bahwa terjadinya bencana alam seperti banjir, longsor, serta bencana alam lainnya lebih banyak didominasi oleh aktifitas manusia. Allah SWT Telah memberikan fasilitas daya dukung lingkungan bagi kehidupan manusia. Oleh karena itu, secara yuridis fiqhiyah berpeluang dinyatakan bahwa dalam perspektif hukum Islam status hukum pelestarian lingkungan hukumnya adalah wajib (Abdillah, 2005 : 11-12).
3. Agar manusia selalu membiasakan diri bersikap ramah terhadap lingkungan
Di dalam Surat Huud ayat 117, Allah SWT berfirman :

Artinya : Dan Tuhanmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.
Fakta spritual yang terjadi selama ini membuktikan bahwa Surat Huud ayat 117 benar-benar terbukti. Perhatikan bencana alam banjir di Jakarta, tanah longsor yang di daerah-daerah di Jawa Tengah, intrusi air laut, tumpukan sampah dimana-mana, polusi udara yang tidak terkendali, serta bencana alam di daerah atau di negara lain membuktikan bahwa Allah akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, melainkan penduduknya terdiri dari orang-orang yang berbuat kebaikan terhadap lingkungan.Dalam suatu kisah diriwayatkan, ada seorang penghuni surga. Ketika ditanyakan kepadanya perbuatan apakah yang dilakukannya ketika di dunia hingga ia menjadi penghuni surga?. Dia menjawab bahwa selagi di dunia, ia pernah menanam sebuah pohon. Dengan sabar dan tulus, pohon itu dipeliharanya hingga tumbuh subur dan besar. Menyadari akan keadaannya yang miskin ia teringat bunyi sebuah hadits Nabi,
“Tidak seorang muslim yang menanam tanaman atau menyemaikan tumbuh-tumbuhan, kemudian buah atau hasilnya dimakan manusia atau burung, melainkan yang demikian itu adalah shodaqoh baginya”.
Didorong keinginan untuk bersedekah, maka ia biarkan orang berteduh di bawahnya, dan diikhlaskannya manusia dan burung memakan buahnya. Sampai ia meninggal pohon itu masih berdiri hingga setiap orang (musafir) yang lewat dapat istirahat berteduh dan memetik buahnya untuk dimakan atau sebagai bekal perjalanan. Burung pun ikut menikmatinya. Riwayat tersebut memberikan nilai yang sangat berharga sebagai bahan kontemplasi, artinya dengan adanya kepedulian terhadap lingkungan memberikan dua pahala sekaligus, yakni pahala surga dunia berupa hidup bahagia dan sejahtera dalam lingkungan yang bersih, indah dan hijau, dan pahala surga akhirat kelak di kemudian hari. (Shihab, 1996 : 492-493).
Seperti halnya seseorang yang menanam pohon tersebut, kita dikelilingi oleh orang-orang yang ada disekitar kita, karena itu, kita jangan sampai memutuskan hubungan kekerabatan antar sesama manusia, Abul-laits Assamarkandi meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Ayyub ra., berkata: seorang Badwi menghadang Nabi SAW. Dan memegang kendali untanya lalu berkata: ya Rasulullah beritahukan kepadaku apakah yang dapat mendekatkan aku ke surga dan menjauhkan diriku dari api neraka? Nabi SAW. Menjawab:
أن تعبد الله ولا تشرك به شيأ وتقيم الصلاة وتؤتى الزكاة وتصل الرحم
“menyembah Allah dan tidak mempersekutukannya dengan suatu apapun, dan mendirikan sembahyang dan mengeluarkan Zakat dan menghubungi famili (kerabat)”.
Abdul-Laits Assamarqandi meriwayatkan juga dengan sanadnya dari Abdullah bin Abi Aufa ra. Berkata:

كنا جلوسا عشية عرفة عند رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال النبى صعلم: لا يجالسنى من أمسى قاطع الرحم ليقم عنا. فلم يقم أحد إلا رجل كان من أقصى الحلقه فمكث غير بعيد ثم جاء, فقال له رسول الله: مالك لم يقم أحد من الحلقة غيرك؟ قال يا نبي الله سمعت الذي قلت فاتيت خالة لى كانت تصارمنى (تقا طعنى) فقالت: ما جاء بك ما هذا دأبك. فأخبرتها بالذى قلت فاستغفرت لى فاستغفرت لها. فقال النبى صلى الله عليه وسلم أحسنت إجلس إلا أن الرحمة لا تنزل على قوم فيهم قاطع رحم

“pada waktu sore hari arafah duduk bersama Nabi SAW. Tiba-tiba nabi SAW. Bersabda: jaangan duduk bersama kami siapa yang memutus hubungan famili (silaturrahmi), supaya bangun dari tengah-tengah kami, maka tidak ada orang kecuali orang di belakang sendiri, tapi tidak lama ia kembali maka ditanya oleh nabi SAW. Mengapakah engkau, sebab tidak ada orang yang bengun kecuali engkau? Jawabnya: ya rasulullah, ketika saya mendengar sabdamu itu, segera saya pergi ke rumah bibiku yang memutuskan hubungan nya dengan aku, lalu dia tanya: mengapa kau datang, ganjil sekali kedatangan mu ini. Maka saya beritahukan apa yang saya dengar dari padamu, maka ia membacakan istighfar untuku dan aku juga membaca istighfar untuknya. Rasulullah SAW. Bersabda: bagus engkau, duduklah sekarang, sebab rahmat tidak akan turun pada suatu kaum jika ada diantara mereka seorang yang memutuskan hubungan silaturrahmi”.
Abul-laits berkata: hadits ini sebagai dalil bahwa memutus hubungan silaturrahmi Itu dosa besar, sebab dapat menolak rahmat baginya dan kawan-kawannya yang duduk bersamanya. Karena itu maka kewajiban tiap muslim harus bertaubat dari pemboikotan(pemutusan) terhadap famili. Dan istighfar minta ampun kepada Allah. Dan segera menghubungi famili, untuk mencari rahmat Allah dan menjauhkan diri dari api neraka.

Referensi :
1. Bukhari, Imam, Shahih Bukhari
2. Hamzah, Imam Al-Husaini Al-Hanafi Ad-Damsyiqi, Asbabul Wurud, kalam Mulia-jakarta feb-2004
3. http://bennysyah.edublogs.org/2007/01/06/Ramah-lingkungan-dalam-pandangan-islam.

hari menyebalkan

Kemarin merupakan hari paling menyeramkan dan memalukan bagiku.. bener2 sesuatu yang harus dhindarkan.. bagaiaman mungkin ada manusai seperti mereka yang tidak tahu malu!!!! kemana rasa malu mereka? apa yang mereka dapatkan dari hal-hal seperti itu? apa?

cuma rasa malu yang lebih tarhadap diri mereka. entah kenapa.. rasanya jika di pikir ulang.. aku ko tidak mersa kaget dengan yang aku lihat.. cuma ada rasa tidak suka pada orang-orang seperti itu. bener-bener memuakkan!!! Tuhan.. maafkan aku kalau aku salah.. kalau aku melihat yang tidak pantas. dan kalau aku mengucapkan kata2 yang tidak bagus.. come on satia.. change your self and  be better

waktu

hanya ada waktu…
yang tidak bisa terhenti, ketika kita menginginkannya..
yang tidak bisa diam, dan terus berdetak…
hanya ada deting jam, yang tak berkesudahan..
sesuatu yang bahkan tak kita sadari, bahwa waktu kita hanyalah sementara..
kita hanya tau bahwa kita hidup untuk terus berjuang.
dan tak ada kata terlambat, sebelum maut menjemput.
tapi, setelah itu? menyesal tak ada gunanya..
karena itu, sebelum ajal menjempun, kita harus berjuang untuk mendapatkan ridho Ilahi.
jangan samapi menyesal di akhir, karena, bisa jadi penyesalan menjadi tiada berguna nantinya.

53903-sadder

Previous Older Entries